SARJANA TOMBOL GENERATE DAN ROBOT-ROBOT BERNYAWA
Oleh: Rizal Ahmad Juliano
Seorang Mahasiswa di Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Jakarta
dan seorang kader biasa dari IMM.
Bismillah...
Ada satu pertanyaan yang akhir-akhir ini terus mengganggu pikiran saya. Mengapa hari ini kita
semakin mudah mendapatkan jawaban, tetapi semakin sulit menemukan orang yang benar-benar
berpikir?
Hanya dalam hitungan detik, kecerdasan buatan mampu menjelaskan teori pendidikan,
merangkum buku setebal ratusan halaman, menyusun esai akademik, bahkan membantu
membangun argumentasi yang terdengar logis. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam
di perpustakaan, kini dapat diselesaikan hanya dengan beberapa baris perintah. Teknologi benar-benar telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan. Ironi, sekilas semua itu tampak seperti kabar baik. Bukankah pendidikan memang selalu menginginkan
akses ilmu yang semakin mudah? Bukankah teknologi diciptakan untuk membantu manusia?
Namun, persoalannya bukan pada teknologinya. Persoalannya adalah ketika kemudahan
memperoleh jawaban perlahan membuat kita kehilangan kebiasaan untuk bergulat dengan
pertanyaan.
Hari ini kita hidup di zaman ketika informasi tidak lagi menjadi barang yang langka. Hampir setiap
orang membawa perpustakaan, ensiklopedia, jurnal ilmiah, bahkan asisten pribadi di dalam
genggaman tangannya. Tidak ada generasi sebelumnya yang memiliki kemudahan seperti generasi
sekarang. Namun, kemudahan itu menyimpan sebuah paradoks. Semakin mudah informasi diperoleh, belum
tentu semakin dalam pemahaman yang dimiliki. Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi
perlahan mengalami kekeringan refleksi. Kita mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu benar
benar memahami apa yang kita ketahui.
Fenomena ini dalam kajian psikologi kognitif dikenal sebagai cognitive offloading, yaitu
kecenderungan manusia menyerahkan sebagian proses berpikir kepada alat atau teknologi. Dahulu
manusia mengandalkan catatan untuk mengingat, hari ini kita mulai mengandalkan algoritma
untuk berpikir. Teknologi memang meringankan beban kognitif, tetapi jika digunakan tanpa
kesadaran, ia juga dapat membuat manusia berhenti melatih kemampuan bernalarnya. Ironisnya,
proses itu terjadi secara perlahan sehingga tanpa sadar sering kali tidak kita sadari. Gejala tersebut semakin nyata ketika kita melihat kehidupan mahasiswa hari ini. Ruang kuliah
masih dipenuhi diskusi, tugas masih dikumpulkan, presentasi masih berjalan, dan nilai tetap keluar.
Dari luar, dunia pendidikan tampak baik-baik saja. Namun, coba kita bertanya lebih jujur pada diri sendiri. Berapa banyak makalah yang benar-benar
lahir dari pergulatan membaca dan berpikir? Berapa banyak presentasi yang disusun setelah
seseorang berusaha memahami persoalan secara mendalam dengan hasil membacanya? Dan
berapa banyak pertanyaan yang muncul karena murni rasa ingin tahu, bukan karena hasil pencarian
di AI?
Realitas yang kita temui justru sebaliknya. Mahasiswa tetap belajar dalam kelompok, menyusun
makalah, membuat presentasi, dan mengikuti diskusi. Akan tetapi, semakin banyak proses belajar
yang diam-diam diserahkan kepada kecerdasan buatan. Referensi dicari oleh AI, kerangka tulisan
dibuat oleh AI, isi makalah dirapikan oleh AI, dan slide presentasi disusun oleh AI. Bahkan tidak
sedikit mahasiswa yang mencari pertanyaan untuk diskusi menggunakan AI, lalu ketika dosen
meminta mereka menjawab, jawaban itu pun kembali diminta kepada AI.
Sebuah siklus komedi yang tragis, ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat penyemaian akal
budi manusia, kini berubah menjadi panggung sandiwara tempat bertemunya robot-robot
bernyawa. Kita dikepung oleh AI di setiap lini, hingga batas antara manusia dan mesin perlahan
kabur. Jangan-jangan, satu-satunya hal yang membedakan kita dengan algoritma itu hari ini
hanyalah takdir bahwa kita masih bernapas. Lalu, jika semuanya sudah dikerjakan oleh AI, lantas
untuk apa anda repot-repot mendaftar kuliah dan menyandang gelar mahasiswa? Mengapa tidak
mesin itu saja yang kita wisuda?Diskusi akhirnya tetap berlangsung, tetapi yang saling berdialog
sering kali bukan hasil pergulatan intelektual para mahasiswa, melainkan hasil percakapan masing
masing dengan mesin. Bukankah ini sebuah ironi?
Barangkali inilah paradoks terbesar pendidikan kita hari ini. Semakin mudah memperoleh
jawaban, semakin sedikit orang yang bersedia hidup bersama pertanyaan. Padahal, seluruh sejarah
pendidikan justru dibangun di atas keberanian manusia mempertanyakan sesuatu. Dari pertanyaan
lahir ilmu pengetahuan. Dari keraguan lahir penelitian. Dari kegelisahan lahir perubahan. Namun
kini kita hidup di masa ketika pertanyaan sering kali dianggap sekadar jalan menuju jawaban
tercepat. Semakin berkembang bukan lagi kemampuan berpikir kritis, melainkan kemampuan
menyusun perintah prompt yang paling efektif. Yang semakin dibanggakan bukan kedalaman
analisis, tetapi kecepatan menyelesaikan tugas. Yang semakin dihargai bukan proses berpikir,
tetapi hasil akhir yang tampak sempurna. Jangan-jangan hari ini kita tidak sedang mengalami krisis
kecerdasan. Kita sedang mengalami krisis keberanian untuk berpikir. Padahal, jauh sebelum teknologi secanggih hari ini hadir, K.H. Ahmad Dahlan telah menunjukkan
bahwa pendidikan tidak pernah lahir dari jawaban yang instan. Beliau mengajarkan Surah Al-Asr
dan Surah Al-Ma'un berulang kali selama berbulan-bulan kepada para muridnya. Bukan karena
mereka tidak mampu membacanya dengan baik ataupun menghafalnya, tetapi karena beliau
memahami bahwa menghafal bukanlah tujuan akhir pendidikan.
Beliau tidak sedang membentuk murid yang pandai mengulang isi ayat. Beliau sedang membentuk
manusia yang mampu berdialog dengan ayat, mempertanyakan maknanya, merasakan
kegelisahannya, lalu mengubahnya menjadi tindakan nyata. Ketika murid merasa pelajaran itu
telah selesai karena sudah hafal, K.H. Ahmad Dahlan justru menunjukkan bahwa belajar belum
benar-benar dimulai sebelum ilmu mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Di situlah
letak perbedaan antara mengetahui dan memahami. Mengetahui membuat seseorang mampu
menjawab, tetapi memahami membuat seseorang berubah pada akhirnya.
Jika kita renungkan lebih dalam, persoalan yang sedang kita hadapi sesungguhnya bukanlah
kecerdasan buatan itu sendiri. AI hanyalah alat. Sama seperti buku, perpustakaan, atau internet, ia
tidak pernah memiliki kehendak untuk merusak manusia, yang menentukan arah tetaplah manusia
itu sendiri. Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi tentang apakah AI berbahaya atau
tidak. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, apa yang sedang terjadi pada cara kita belajar
ketika AI selalu tersedia untuk berpikir menggantikan kita? Sebab pendidikan tidak pernah diukur
dari seberapa cepat seseorang menemukan jawaban. Pendidikan selalu berbicara tentang
bagaimana seseorang sampai pada jawaban tersebut.
Sejak dahulu, pendidikan tidak pernah dirancang sekadar memindahkan informasi dari kepala guru
ke kepala murid. Jika demikian, perpustakaan sudah cukup menggantikan sekolah, dan hari ini AI
sudah cukup menggantikan dosen. Namun, pendidikan selalu memiliki tujuan yang jauh lebih
besar daripada itu. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Ia melatih seseorang untuk berpikir, mempertanyakan, meragukan, berdialog, mengambil
keputusan, lalu bertanggung jawab atas keputusan tersebut. Dengan kata lain, pendidikan tidak
hanya membentuk apa yang diketahui seseorang, tetapi juga membentuk siapa dirinya. Itulah
sebabnya proses sering kali jauh lebih penting daripada hasil.
Sayangnya, budaya instan perlahan mengubah cara kita memandang esensi belajar. Banyak orang
mulai menganggap belajar sebagai aktivitas menyelesaikan tugas semata. Ketika tugas selesai,
proses belajar dianggap selesai. Ketika nilai keluar, pendidikan dianggap berhasil. Padahal
keduanya belum tentu sama. Seseorang dapat memperoleh nilai tinggi tanpa pernah benar-benar
memahami apa yang dipelajari. Seseorang dapat menghasilkan tulisan yang sangat baik tanpa
pernah mengalami pergulatan intelektual sedikit pun. Bahkan hari ini, seseorang dapat terlihat
sangat cerdas hanya karena mampu mengajukan perintah yang tepat kepada mesin. Ironisnya,
semua itu sering kali tetap mendapatkan apresiasi karena yang dinilai adalah hasil akhirnya, bukan
prosesnya. Di sinilah integritas akademik memperoleh makna yang jauh lebih dalam. Selama ini integritas
sering dipersempit menjadi persoalan plagiarisme, sitasi, atau persentase kemiripan tulisan.
Seolah-olah seseorang disebut jujur selama angka kemiripan di aplikasi pemindai tetap rendah.
Padahal persoalannya tidak sesederhana itu.
Bayangkan dua mahasiswa. Mahasiswa pertama menulis seluruh tugasnya sendiri. Kalimatnya
mungkin belum rapi, argumentasinya masih lemah, bahkan masih banyak kekurangan. Namun
setiap kalimat lahir dari proses membaca, berpikir, lalu mencoba memahami. Sementara itu,
mahasiswa kedua menghasilkan tulisan yang jauh lebih baik. Susunan bahasanya indah,
argumennya sistematis, referensinya lengkap, akan tetapi hampir seluruh proses berpikirnya
diserahkan kepada AI. Secara teknis mungkin tidak ada plagiarisme yang melanggar aturan.
Namun, apakah keduanya sedang belajar dalam makna yang sama? Pertanyaan itulah yang mulai
jarang kita ajukan.
Sesungguhnya yang sedang diuji di era AI bukan kecerdasan manusia, melainkan kejujuran
intelektual. Tidak ada dosen yang mampu mengawasi setiap ketukan prompt yang kita ketik. Tidak
ada aplikasi yang mampu mengukur apakah sebuah ide benar-benar lahir dari pergulatan pikiran
atau hanya hasil menyusun perintah yang baik kepada mesin. Pada akhirnya, integritas selalu
bekerja ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Di situlah pendidikan menemukan maknanya.
AI sebenarnya tidak pernah meminta manusia berhenti berpikir. Ia hanya menawarkan jalan yang
lebih cepat. Namun ironisnya, manusialah yang sering kali tergoda menjadikan jalan pintas sebagai
jalan utama. Sedikit demi sedikit, kita mulai kehilangan kesabaran untuk membaca, kehilangan
keberanian untuk salah, kehilangan ketekunan untuk memahami, kehilangan kebiasaan berdialog,
dan yang paling berbahaya, kita mulai kehilangan kenikmatan berpikir itu sendiri. Padahal setiap gagasan besar dalam sejarah lahir dari pergulatan yang panjang. Tidak ada ilmuwan
yang menemukan teori hanya karena mengetik satu kalimat. Tidak ada pemikir yang mengubah
peradaban karena mencari jawaban instan. Tidak ada tokoh besar yang lahir tanpa melewati
kebingungan, keraguan, kegagalan, dan pencarian yang melelahkan. Pergulatan itulah yang
membentuk manusia, bukan sekadar jawabannya.
Mungkin inilah ironi terbesar pendidikan kita hari ini. Kita begitu sibuk mengejar efisiensi hingga
lupa bahwa tidak semua hal dalam hidup harus dipercepat. Benih tidak tumbuh hanya karena kita
memintanya tumbuh lebih cepat. Buah tidak matang hanya karena kita menginginkannya matang
hari ini. Demikian pula manusia; karakter tidak lahir dari jawaban instan, kebijaksanaan tidak lahir
dari algoritma, dan kedewasaan berpikir tidak pernah lahir dari tombol generate.
Jika jawabannya tidak, maka yang akan hilang bukan sekadar kemampuan menulis atau berdiskusi.
Yang akan hilang adalah kemerdekaan berpikir. Dan ketika manusia kehilangan kemerdekaan
berpikir, pada saat itulah pendidikan perlahan kehilangan alasan keberadaannya.
Jika demikian, apakah jalan keluarnya adalah menolak kecerdasan buatan? Tentu tidak. Menolak
AI sama tidak masuk akalnya dengan menolak listrik atau internet. Teknologi selalu menjadi
bagian dari perkembangan peradaban manusia. Persoalannya bukan apakah teknologi harus ada
atau tidak, melainkan siapa yang memegang kendali.
Teknologi seharusnya memperluas kemampuan berpikir manusia, bukan menggantikannya. AI
seharusnya menjadi teman berdialog, bukan tempat menitipkan seluruh proses berpikir. Ketika
manusia mulai menyerahkan analisis, refleksi, hingga pengambilan keputusan kepada mesin, pada
saat itulah teknologi tidak lagi menjadi alat, tetapi perlahan mengambil alih peran manusia sebagai
subjek yang berpikir. Mungkin kita tidak sadar, tetapi kemerdekaan berpikir jarang hilang karena
dirampas. Ia lebih sering hilang karena diserahkan dengan sukarela.
Karena itu, pendidikan hari ini memerlukan keberanian untuk melambat. Di tengah dunia yang
memuja kecepatan, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi bentuk perlawanan
intelektual. Tidak semua pertanyaan harus dijawab dalam satu menit, tidak semua buku harus
diringkas, dan tidak semua tugas harus diselesaikan secepat mungkin. Ada kalanya seseorang perlu
duduk lebih lama bersama sebuah gagasan, membaca satu halaman berulang kali, menulis ulang
pemahamannya dengan kata-katanya sendiri, berdiskusi tanpa membuka AI, dan membiarkan
dirinya bingung sebelum akhirnya menemukan pemahaman. Sebab, justru di situlah proses
berpikir sedang bekerja.
K.H. Ahmad Dahlan tidak mengajarkan Surah Al-Asr dan Al-Ma'un berulang kali karena beliau
kekurangan materi. Beliau sedang mengajarkan sesuatu yang hari ini mulai hilang, yaitu kesabaran
intelektual. Beliau memahami bahwa ilmu bukan sesuatu yang sekadar dikumpulkan, tetapi
sesuatu yang diresapi hingga mengubah cara seseorang memandang dunia. Barangkali pendidikan
hari ini membutuhkan semangat yang sama; bukan semakin banyak materi, tetapi semakin banyak
ruang untuk berpikir.
Hal yang sama juga terjadi di dalam organisasi mahasiswa. Organisasi semestinya menjadi tempat
lahirnya gagasan, bukan sekadar tempat menjalankan agenda. Namun, kita mulai melihat
perubahan yang cukup mengkhawatirkan. Kajian yang dahulu dipenuhi perdebatan panjang
perlahan bergeser menjadi sekadar unggahan media sosial. Aktivisme sering kali diukur dari
seberapa ramai poster dibagikan, seberapa banyak tagar digunakan, atau seberapa cepat sebuah isu
menjadi viral. Kita merasa telah berjuang hanya karena telah mengunggah sesuatu, padahal
masyarakat tidak berubah hanya karena linimasa menjadi ramai.
Fenomena ini sering disebut slacktivism, yaitu ketika aktivitas digital memberikan rasa puas semu
seolah-olah kita telah melakukan perubahan, padahal tindakan nyata belum benar-benar terjadi.
Lebih jauh lagi, algoritma media sosial juga membuat kita semakin nyaman hidup di ruang gema
atau echo chamber. Kita membaca pendapat yang kita sukai, mengikuti orang yang sepakat dengan
kita, lalu perlahan menganggap bahwa pandangan kitalah satu-satunya yang benar. Ruang dialog
akhirnya menyempit. Musyawarah berubah menjadi saling menyerang, dan tabayyun digantikan
oleh prasangka. Padahal, organisasi mahasiswa justru dibangun untuk mempertemukan perbedaan,
bukan menghindarinya. Jika ruang berpikir itu hilang dari kampus, lalu ruang mana lagi yang akan
melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan?
Karena itu, pendidikan di era digital bukan hanya membutuhkan literasi digital, melainkan sebuah
integritas digital. Literasi digital membuat seseorang mampu menggunakan teknologi, sedangkan
integritas digital membuat seseorang tahu kapan teknologi harus digunakan dan kapan ia harus
berpikir dengan kepalanya sendiri. Literasi digital mengajarkan cara mencari informasi, tetapi
integritas digital mengajarkan kejujuran terhadap proses memperoleh pengetahuan. Pada akhirnya,
literasi digital membuat manusia semakin cakap, namun integritas digital yang menjaga agar
manusia tetap bijak. Sebab, bukan kecanggihan teknologi yang akan menentukan masa depan
peradaban, melainkan kualitas manusia yang menggunakannya.
Saya percaya AI akan terus berkembang. Mungkin beberapa tahun lagi ia mampu menulis buku
lebih baik daripada manusia, mampu membuat penelitian lebih cepat, mampu mengajar, bahkan
menemukan obat. Mungkin suatu hari ia mampu memahami pola pikir manusia lebih baik daripada
manusia itu sendiri. Namun, ada satu hal yang hingga kapan pun tidak dapat dilakukan oleh mesin.
AI tidak dapat memilih untuk jujur, tidak dapat memilih untuk bertanggung jawab, tidak dapat
merasakan kegelisahan ketika mencari kebenaran, dan tidak dapat memiliki hati nurani. Semua itu
hanya dimiliki manusia, dan justru di situlah letak kemuliaan pendidikan.
Maka, jangan takut ketika AI menjadi semakin pintar, tetapi takutlah ketika manusia mulai berhenti
berpikir. Jangan khawatir ketika mesin mampu menjawab semua pertanyaan, khawatirlah ketika
manusia tidak lagi memiliki rasa ingin tahu. Jangan cemas ketika teknologi berkembang begitu
cepat, cemaslah ketika kita merasa tidak lagi membutuhkan proses untuk menjadi dewasa. Sebab,
peradaban tidak runtuh ketika teknologi berkembang, melainkan runtuh ketika manusia kehilangan
kesadaran untuk menggunakan akalnya.
Barangkali beberapa tahun ke depan, dunia akan dipenuhi oleh orang-orang yang mampu
menghasilkan tulisan yang sempurna, presentasi yang menarik, argumentasi yang terdengar
ilmiah, bahkan pidato yang memukau semuanya dengan bantuan AI. Namun, sejarah tidak akan
bertanya seberapa canggih teknologi yang kita gunakan. Sejarah akan bertanya, apakah di tengah
semua kemudahan itu kita masih memilih untuk berpikir? Apakah kita masih memilih untuk jujur
terhadap proses belajar? Apakah kita masih memilih menjadi manusia?
Karena sehebat apa pun algoritma berkembang, pendidikan tidak pernah bertujuan menciptakan
manusia yang paling cepat memperoleh jawaban. Pendidikan bertujuan melahirkan manusia yang
memiliki keberanian mencari kebenaran. Dan keberanian itu tidak pernah dapat dihasilkan oleh
mesin, ia hanya dapat lahir dari manusia yang bersedia berpikir.
Innalillah...
Komentar
Posting Komentar